Sunah dan salat sunah
Nyalakan salat sunah, dan halaman waktu salat mendapat satu baris tenang di bawah setiap salat fardu: “Sebelum 4 rakaat · Sesudah 2 rakaat”, sesuai urutan pengerjaannya. Duha mengikuti terbit matahari dan membawa rentang waktu, bukan jam; Tahajud, Syaf‘, dan Witir menutup hari dalam blok tersendiri. Intinya justru pada apa yang bukan: semuanya hidup di buku terpisah, jadi hari tanpa Duha bukanlah celah, tidak ada yang masuk ke hitungan qada, dan tidak ada salat sunah yang bisa memutus — atau menggelembungkan — rentetan salat fardu. Statistiknya mengikuti aturan yang sama: fardu diukur sebagai laju, sunah sebagai jumlah. Anda tidak akan pernah melihat persentase di samping sebuah sunah.
- Delapan rawatib, disebutkan sebelum dan sesudah tiap salat fardu
- Duha berpatokan pada terbit matahari, dengan rentangnya — bukan jam tetap
- Salat malam dalam bloknya sendiri: Tahajud · Syaf‘ · Witir
- Buku terpisah — sunah yang ditinggalkan tidak pernah dicatat “terlewat”
- Dihitung dalam rakaat dan hari, bukan persentase kewajiban
- Sembunyikan satu keluarga sekaligus — rawatib, siang, atau malam
- Mati secara bawaan: nyalakan pada hari ia berguna bagi Anda